Apa Itu Manten Tebu? Tradisi yang Diangkat dalam Film Pabrik Gula, Benarkah Berawal dari Tumbal Sepasang Manusia?

Gula-Instagram-
Apa Itu Manten Tebu? Tradisi yang Diangkat dalam Film Pabrik Gula, Benarkah Berawal dari Tumbal Sepasang Manusia?
Pabrik Gula: Horor Lokal yang Mengguncang Layar Lebar di Momen Lebaran 2023. Film Pabrik Gula garapan MD Pictures sukses mencuri perhatian penonton Tanah Air di momen Lebaran tahun ini. Dengan kekuatan cerita horor lokal yang kental, film ini berhasil mendominasi box office dan menjadi salah satu tontonan wajib di bioskop. Sejak penayangan perdana pada 31 Maret lalu, Pabrik Gula langsung meraih pencapaian fantastis dengan mengumpulkan lebih dari 500 ribu penonton hanya dalam dua hari pertama. Angka tersebut membuktikan bahwa genre horor masih menjadi favorit masyarakat Indonesia.
Film ini merupakan hasil kolaborasi apik antara sutradara Awi Suryadi dan penulis skenario Lele Laila, yang sebelumnya juga sukses menggarap KKN di Desa Penari (2022). Film tersebut sempat mencatatkan diri sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa. Kini, duet mereka kembali menunjukkan kehebatannya melalui Pabrik Gula , adaptasi karya SimpleMan yang menghadirkan nuansa horor Jawa Timur yang begitu khas.
Cerita yang Menegangkan dengan Latar Budaya Lokal
Dibintangi oleh sederet aktor ternama seperti Arbani Yasiz, Ersya Aurelia, Erika Carlina, Bukie B Mansyur, dan Wavi Zihan, Pabrik Gula menyuguhkan kisah tentang para pekerja sebuah pabrik penggilingan tebu yang harus menghadapi serangkaian teror mencekam. Awalnya, mereka datang dengan harapan besar untuk mendapatkan imbalan besar setelah bekerja keras. Namun, harapan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika serangkaian kejadian horor mulai mengancam nyawa mereka.
Teror yang mereka alami ternyata memiliki akar sejarah panjang yang terkait dengan tradisi masa lalu. Pemilik pabrik gula diketahui pernah membuat perjanjian dengan makhluk gaib yang disebut Maharatu, penunggu area pabrik. Perjanjian ini awalnya bertujuan untuk melindungi pabrik dan memastikan kelancaran produksi. Namun, pelanggaran terhadap perjanjian lama itu tampaknya telah memicu kemarahan mahkluk gaib tersebut, sehingga para pekerja harus membayar harga mahal atas keserakahannya.
Manten Tebu: Tradisi Nyata yang Diangkat ke Layar Lebar
Salah satu elemen menarik dalam Pabrik Gula adalah pengangkatan tradisi lokal bernama "manten tebu". Tradisi ini merupakan ritual adat yang masih hidup hingga saat ini di berbagai daerah di Jawa Timur, termasuk Kediri, Tulungagung, dan Blitar. Manten tebu dilakukan sekali setahun sebelum dimulainya musim penggilingan tebu di pabrik gula. Ritual ini simbolis, menggambarkan kerja sama erat antara petani tebu dan pihak pabrik gula, seolah-olah kedua belah pihak "dikawinkan" untuk memastikan kelancaran proses produksi.
Dalam film ini, manten tebu digambarkan sebagai salah satu solusi untuk mengakhiri bencana horor yang melanda. Prosesi adat ini tidak hanya menjadi bagian penting dari cerita, tetapi juga memberikan sentuhan budaya lokal yang autentik. Tradisi ini melibatkan pemilihan dua batang tebu terbaik dari lahan milik petani dan pabrik, yang kemudian diarak layaknya pasangan pengantin manusia.
Simbolisme dalam Manten Tebu
Menurut Novi Antikasari dan Octo Dendy Andriyanto dalam Jurnal Online Baradha Edisi 25 Volume 1 Tahun 2023, tradisi manten tebu memiliki makna mendalam. Dalam ritual ini, tebu pria diberi nama Raden Bagus Rosan, sementara tebu wanita diberi nama Dyah Ayu Roromanis. Nama-nama tersebut bukan sekadar formalitas, tetapi mencerminkan nilai-nilai unggul, bersih, dan manis yang diharapkan akan menghasilkan gula melimpah.
Prosesi manten tebu dimulai dengan penebangan tebu atau yang disebut "petik manten". Aktivitas ini dilakukan secara khidmat, lengkap dengan sesaji seperti nasi tumpeng, bubur merah putih, teh, hingga kopi. Setelah itu, tebu yang telah dipilih akan dimandikan dengan air bunga sebagai simbol penyucian. Selanjutnya, tebu tersebut diarak menuju pabrik gula, bersama dengan sepasang pengantin manusia yang bertindak sebagai representasi atau peraga dari "pengantin tebu".
Arak-arakan manten tebu biasanya diiringi dengan pertunjukan seni rakyat dan pasar malam, menjadikannya acara yang meriah bagi masyarakat sekitar. Ketika rombongan sampai di depan pabrik gula, tebu akan diserahterimakan kepada pihak pabrik. Seorang petinggi pabrik kemudian akan memasukkan tebu ke mesin penggilingan, simbolisasi dimulainya musim giling serta penyatuan tebu milik petani dengan tebu pabrik.
Baca juga: Meme Kesenggol Toples Kue Sagu Keju Kenapa Viral? Ternyata Bermula dari Komik Iklan Idul Fitri